Trend
di atas mau tidak mau akan berimbas pada perkembangan industri retail
di tanah air. Retailer di Indonesia perlu mencermati trend ini, agar
pada saatnya nanti dapat memaksimumkan kesempatan yang ada untuk
mengambil manfaat sebesar-besarnya dari trend yang terjadi. Mari kita
lihat trend apa saja yang akan menyertai perkembangan teknologi ini.
e-Retailing
“The internet is like a weapon sitting
on the table, ready to be picked either by you or your competitors”
demikian nasihat yang diberikan oleh Michael Dell, pendiri Dell
Computer.. Saat ini jumlah pengguna internet di Indonesia baru sekitar
1% dari jumlah penduduk atau lebih kurang dua juta orang. Walau pun
demikian pada masa mendatang jumlah ini akan terus mengalami
peningkatan. Sehingga tidak salah jika dikatakan trend blue chip di
masa mendatang adalah non-store retailing melalui internet yang dikenal
dengan e-retailing, e-tailing atau e-Commerce B2C.
Melihat pengalaman di Amerika, survey
dari Boston Consulting Group (BCG), menunjukkan bahwa pada tahun 2000,
e-retailing tumbuh dengan laju 120% dan mencapai penjualan senilai 33
milliar USD. Pada tahun 2001 diperkirakan tumbuh 85% dengan penjualan
mencapai 61 milliar USD (Retailernews.com, Feb 2001).
Produk apa yang cocok dijual melalui
internet? Produk yang penjualanya didukung oleh impulse buying atau
produk tak bermerek yang karakteristiknya ditentukan oleh evaluasi
secara organoleptik (evaluasi pancaindera terhadap bentuk, tekstur,
warna, rasa, dan bau), tidak akan sukses jika dijual melalui
e-retailing. Produk yang cocok untuk dipasarkan melalui internet adalah
produk rasional. Artinya produk yang dijual harus produk yang mudah
dideskripsikan, memiliki loyalitas merek yang tinggi atau mereknya
sudah demikian dikenal oleh target pembelinya, misalnya buku, komputer,
camera, appliances, peralatan kantor, produk kecantikan, produk
kesehatan dan pakaian. Riset dari BCG, menunjukkan bahwa kategori
seperti komputer, buku, mobil, produk kecantikan dan kesehatan
merupakan kategori yang paling pesat pertumbuhan penjualannya di
internet. Untuk produk makanan dan toiletries, hanya merek-merek
terkenal yang paling umum dikonsumsi yang mungkin sukses dijual secara
e-tailing. Sedangkan untuk produk fresh seperti daging, ikan dan buah
masih sulit untuk dipasarkan melalui e-tailing karena perilaku pembelian
konsumen yang sangat khas untuk produk-produk ini. Untuk membeli
produk fresh pembeli butuh melihat, menyentuh dan membaui terlebih
dahulu sebelum memutuskan pembelian.
IT Application for business and commercial
Didukung
oleh perkembangan teknologi PDA, barcoding dan mobile telpon,
e-tailing masa depan akan sangat jauh berbeda dengan praktek yang
terjadi sat ini. Pada masa depan berbelanja akan semakin singkat,
mudah, dan praktis. Kita dapat memesan produk melalui PDA/mobile phone
yang dilengkapi dengan barcode scanner, bayar dengan ATM atau credit
card secara on-line. Teknologi I-Home yang dikembangkan oleh Cisco
Systems, bahkan sanggup membuat kulkas kita memesan barang secara
langsung ke supermarket, jika stock barang di dalamnya dibawah stock
minimum yang kita set. Selanjutnya pesanan dapat kita ambil sendiri atau
langsung diantar via delivery service.
Barcoding Shopping
Selain berbelanja melalui internet,
tentunya di masa depan kita juga masih dapat berbelanja langsung ke
supermarket. Namun supermarket masa depan akan jauh berbeda dengan
supermarket yang ada saat ini. Jika sekarang kita memilih barang dan
meminta cashier menscan barcode-nya, maka di masa depan kita menscan
sendiri barang yang kita inginkan dengan handheld terminal yang
disediakan toko atau PDA yang kita miliki. Lalu meletakkan barang di
trolley khusus yang dilengkapi barcode reading dengan teknologi seperti
blue tooth. Jika barang belum di-scan, alarm pada trolley akan
berbunyi, mengingatkan kita untuk menscannya dulu. Total harga barang
yang telah di-scan dapat dibayar via ATM atau credit card secara on
line lewat PDA atau hand phone. Selanjutnya kita langsung menuju pintu
keluar untuk mengambil receipt dan membungkus belanjaan.

Toko-toko
mungkin tidak lagi membutuhkan cashier atau pun cash register. Para
cashier harus mulai berpikir untuk menemukan pekerjaan baru! Dengan
teknologi seperti ini toko akan beroperasi lebih effisien, dan mampu
mengontrol shrinkage lebih baik. Sekarang teknologi seperti ini sedang
dikembangkan oleh Wal-Mart bersama Symbol Technologies.
Teknologi diatas dimungkinkan dengan
adanya teknologi wireless LAN dan teknologi barcoding yang dikembangkan
oleh Barpoint.com bekerjasama dengan Palm Pilot, Teknologi CueCat dari
CueCat.com dan deBarcode.com. Saat ini teknologi seperti ini sedang
dikembangkan oleh Radio Shack dan CueCat di AS. Misalnya jika kita
berkunjung ke outlet Radio Shack, kita akan diberikan satu unit CueCat
gratis untuk dihubungkan ke unit PC di rumah. Dengan alat ini kita
dapat menscan barcode dari produk yang dicantumkan di iklan majalah
atau catalog Radio Shack, untuk selanjutnya browser internet akan
meload data profil produk tersebut melalui PC. Jika tertarik, kita
dapat langsung memesannya secara on line. Dan barang pun akan segera
dikirimkan ke rumah kita.
Di masa depan fungsi seller (pramuniaga
toko) dapat digantikan oleh tokoh animasi, yang dengan sigap dan tak
kenal lelah menjawab seluruh pertanyaan calon pembeli melalui computer
station yang dipasang di area toko. Jadi jangan kaget jika di masa
depan kita dilayani oleh Lara Crox, saat berbelanja di supermarket.
e-Price Comparation
Perkembangan teknologi e-retailing dan
e-barcoding , akan mendorong berkembangnya pelayanan cyber price
survey. Melalui jasa seperti ini, jika ingin mengetahui atau
membandingkan harga yang ada di pasar, konsumen dapat dengan mudah
mengakses situs tertentu dan memperoleh informasi tersebut. Informasi
yang diberikan dapat berupa Nama Barang, Nomor Barcode, Nama
Manufacturer, Spesifikasi Barang, dan Harga Jual di retailer A, di
retailer B atau retailer lain yang diminta.
Dengan teknologi seperti ini mekanisme
pasar akan lebih effisien. Konsumen akan semakin mudah menentukan,
retailer mana yang lebih murah dan mana yang lebih mahal. Jika tidak
memiliki nilai tambah yang significant, jangan harap retailer dapat
menarik hati calon pelanggan. Semakin jelaslah bahwa dimasa depan
retailer harus ekstra keras mengeffisiensikan sistem operasi dan sistem
supply chainsnya jika ingin sukses. Hilangkan in-effisiensi dalam
supply chain, kurangi jumlah supplier untuk satu jenis produk yang sama
25% setiap tahunnya, berikan empowerment kepada tiga orang terbaik
bukan anggota keluarga untuk mengelola usaha, jauhkan sepupu dari usaha
kita, rekruit orang-orang yang memiliki integrasi, dan berikan mereka
gaji dan benefit yang memuaskan. Tanpa itu … selamat tinggal! Dan
selamat bergabung di dunia under dog!
Quick and Efficient Customer Response (QECR)
Trend berikutnya yang akan terjadi
dengan diserapnya perkembangan TI ke Indonesia adalah penerapan QECR
dalam proses logistik dan distribusi barang oleh retailer. Prinsip
utama QECR adalah pemanfaatan teknologi guna meningkatkan effisiensi
dan kecepatan respon dari retailer terhadap permintaan pasar, dengan
demikian perkembangan teknologi komputer dan komunikasi akan berdampak
besar terhadap QECR. Saat ini sistem manufacture, distributor dan
retailer merupakan tiga sistem yang terpisah dan tertutup. Di masa
depan ke tiga sistem ini akan menjadi satu, karena tuntutan effisiensi
yang lebih tinggi.
Saat ini praktek QECR berkembang pesat
di Eropa, terutama di Inggris. Tesco melalui penerapan QECR misalnya,
mampu menurunkan level stock di rantai mereka dari 46 hari pada tahun
1978 menjadi hanya berkisar 17 hari di tahun 1997. Jika berminat untuk
menerapkan QECR, maka dua landasan implementasi QECR berikut harus
dipenuhi terlebih dahulu, yaitu :
Trust antar komponen rantai permintaan (demand chains).
Relationship win-win antara retailer dengan supplier.
Tanpa dipenuhinya kedua hal di atas jangan harap penerapan QECR akan
berhasil. Selanjutnya untuk menjamin keberhasilan penerapan QRCR maka
fokus manajemen harus diarahkan pada hal-hal berikut:
Penerapan micro merchandising.
Penerapan interface multifungsi dalam hubungan retailer-supplier.
Ada sistem pemantauan PLC (Product Life Cycles).
Penerapan category management.
Product replenishment yang effisien.
Memaksimumkan penerapan teknologi.
Implemantasi QECR oleh retail akan
menjadi satu kompetitif advantage di masa depan, sepandan dengan
besarnya investasi yang harus ditanamkan oleh perusahaan. Wal-Mart
misalnya menanamkan investasi senilai 2.4 juta USD pada tahun 1983
hanya untuk membeli teknologi komunikasi via satelit untuk meningkatkan
effisiensi distribusi dan logistiknya. Pada awalnya Sam Walton, sang
pendiri, enggan mengeluarkan dana sebesar itu hanya untuk
komputerisasi. Namun akhirnya ia mengalah terhadap desakan para top
managernya seperti David Glass, Jack Shewmaker dan Ron Mayer. Dua tahun
pertama investasai ini belum menunjukkan hasil. Namun investasi
tersebut akhirnya diakui sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan
Wal-Mart saat ini. Sehingga Wal-Mart mampu menggabungkan sistem mereka
dengan sistem para suppliernya. Dengan demikian mereka mampu membeli
dengan harga lebih murah, plus biaya logistik & distribusi yang
lebih effisien Tak heran jika mereka dapat membuktikan bahwa jika
belanja di Wal-Mart … Every Day Low Price! Kini Wal-Mart adalah
retailer terbesar dalam hal omzet di dunia. Semua pencapaian itu memang
tidak gratis, total investasi Wal-Mart pada saat itu untuk membeli
teknologi komputer dan komunikasi satelit hampir mencapai 700 Juta USD.
Hal yang menggembirakan adalah kesadaran
dari para manufacture (supplier) untuk turut memperbaiki teknologi
komputerisasi dan komunikasinya. Sehingga dengan adanya upaya dua
pihak,. retailer-supplier; Untuk sama-sama memperbaiki teknologi
mereka, biaya investasi diharapkan dapat lebih murah. Contoh kolaborasi
retailer-manufacture dalam program supply chain integration, misalnya
antara Wal-Mart dan P&G. Manufacture lain misalnya Nestle,
mengembangkan sistem supply chains berbasis internet. Nestle menanamkan
USD 1.8 milyar untuk mengembangkan sistem tersebut. Sebelumnya Nestle
memilki 5 sistem e-mail dan 20 versi software accounting, dengan sistem
barunya ini, Nestle mulai beralih menuju penggunaan satu paket
software. Database Nestle menggunakan satu kode produk tunggal,
sehingga pembeli produk Nestle di satu negara dapat membeli produk yang
sama dari divisi Nestle di negara lain. Seluruh database Nestle
disentarlisasikan di 6 pusat data, dan dapat diakses lewat internet.
Nestle juga dapat mengetahui berapa banyak pembelian yang dilakukan
oleh satu account, proses negosiasi dilakukan tersentalisasi, sehingga
memberikan volume yang lebih besar per satu purchase order, dengan
demikian lebih effisien. Pembelian lintas negara menjadi lebih mudah
dikoordinasikan.
Non store retailing dan QECR melalui
internet merupakan trend blue chip di masa mendatang di Indonesia.
Kemajuan teknologi komputer dan komunikasi akan mempercepat pertumbuhan
e-retailing dan penerapan praktek QECR. Banyak peluang penghematan
yang dapat diambil. Implikasinya, jika ingin tergabung dalam sistem
tersebut, maka retailer perlu mengevaluasi apakah sistem dan
infrastruktur yang dimiliknya mendukung untuk itu, jika tidak, saatnya
sekarang ini untuk mempersiapkan diri, atau terlambat sama sekali. |